Mengenang Jejak Sederhana Sang Pahlawan Bangsa Anti Korupsi

Bung Hatta, sosok sederhana, anti korupsi

jakartapintar.com – Sosok Bung Hatta dikenal penuh dengan kesederhanaan semasa hidupnya. Contoh teladan yang diberikannya patut diberikan acungan jempol. Ternyata kesederhanaan Bung Hatta ini tidak hanya tampak ketika ia sedang berada di ranah publik, namun juga dilakukan di kehidupan kesehariannya. Berikut kesederhanaan Bung Hatta yang belum banyak kita ketahui.

Tak Suka Memakai Fasilitas Negara Untuk Kepentingan Pribadi

Dikisahkan pada tahun 1950, ibunda Bung Hatta ingin bertemu anaknya. Ia kemudian meminta bantuan kemenakan tirinya, Hasjim Ning, untuk menjemput ke Sumedang, Jawa Brat. Hasjim Ning saat itu mengusulkan agar diperbolehkan menggunakan mobil dan supir Bung Hatta saja, dengan pertimbangan bahwa sang ibu mungkin akan merasa sangat bangga apabila dijemput dngan mobil seorang Perdana Menteri (jabatan Bung Hatta pada saat itu). Namun dengan tegas Bung Hata menjawab, “Tidak bisa. Mobil itu bukanlah kepunyaanku, tapi kepunyaan negara.” (sebagaimana dikutip dari otobiografi Hasjim Ning, ‘Pasang Surut Pengusaha Pejuang’).

Menurut sekretarisnya, I. Wangsa Widjaja, kesederhanaan Bung Hatta juga terlihat kala ia sedang bertugas ke luar negeri. “Ia pergi membawa satu koper dan pulang dengan satu koper pula,” tulis Wangsa di buku ‘Mengenang Bung Hatta’. Menurut Wangsa, Bung Hatta tidak suka menghamburkan uang untuk berbelanja ini dan itu. Bung Hatta juga nyaris tidak pernah memanfaatkan kunjungannya ke luar negeri untuk bersenang-senang. “Kalaupun beliau menghendaki liburan, satu-satunya hiburan beliau adalah mengunjungi toko buku dan membenamkan diri diantara rak-rak buku selama berjam-jam,” lanjut Wangsa yang bekerja untuk Hatta sejak November 1945 itu.

Kesulitan Membayar Iuran Air Minum dan Ireda

Pada awal tahun 1970-an, keluarga Bung Hatta pernah sampai kesulitan membayar iuran air minum dan iuran rehabilitasi daerah (Ireda). Hal ini kemudian diketahui oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin. “…terharu saya mendengarnya. Saya segera mencari akal, mencari jalan apa yang saya dapat perbuat semampu saya untuk membantunya,” demikian kata Ali Sadikin dalam memoarnya, ‘Demi Jakarta 1966-1977’.

Langkah pertama Ali Sadikin akla itu adalah menetapkan Bung Hatta sebagai Warga Utama Jakarta. Kemudian mengusulkan kepada DPRD DKI Jakarta agar sang Warga Utama dibebaskan dari kewajiban membayar iuran air minum dan Ireda. DPRD dapat menyetujui hal tersebut.

Tak Mampu Membeli Sepatu Mahal

Cerita tentang Bung Hatta yang snagat menginginkan sepatu mahal bermerek ‘Bally’ mungkin sudah banyak diketahui umum. Konon pada suatu kesempatan saat sedang pergi bertugas ke luar negeri, ia melihat sepasang sepatu di sebuah pertokoan yang menurutnya sangat bagus. Ingin rasanya ia membeli sepasang sepatu tersebut, namun apa daya uang di saku rupanya belum cukup. Maklum, pada masa itu ‘Bally’ merupakan merek sepatu ternama berharga mahal. Saking mengidamkannya, guntingan iklan koran dari sepatu tersebut disimpannya dengan rapih dalam dompet hingga waktu yang sangat lama, seraya berharap suatu ketika nanti bisa dibelinya.

Namun kenyataannya hingga akhir hayat sepatu idaman tersebut tetap tak terbeli, karena uang tabungannya tak pernah mencukupi dan selalu terpakai untuk berbagai keperluan rumah tangga, menolong kerabat serta kebutuhan lainnya.

Kisah Mesin Jahit yang Tak Terbeli

Adapula kisah tentang istri Bung Hatta, Rahmi, yang menghemat pengeluaran keluarga agar bisa memebli mesin jahit yang sangat diinginkannya. Setelah uang terkumpul dan hampir mencukupi, tiba-tiba ia dikejutkan dengan berita bahwa Pemerintah RI menerbitkan kebijakan sanering atau pemotongan nilai uang. Pemotongan ini menurunkan nilai uang hingga tinggal 10 persennya saja, demi mengatasi kondisi ekonomi yang memburuk.

Uang tabungan Rahmi yang tadinya hampir mencukupi, tiba-tiba menjadi tidak ada nilainya. Dengan sedih ia kemudian mendatangi suaminya dan bertanya, “Pak, bapak kan Wakil Presiden. Bapak pasti tahu bahwa Pemerintah akan mengadakan sanering. Mengapa Bapak tidak memebri tahu?”. Kemudian Hatta menjawab,” Bu, itu rahasia negara. Kalau bapak beritahu pada ibu, berarti itu bukan rahasia lagi.”

Wah, begitu sangat sederhananya kehidupan sehari-hari Bung Hatta ini. Semoga Indonesia akan melahirkan banyak generasi penerus seperti sosok Bung Hatta. Tidak hanya baik dalam kesederhanaan, namun juga mampu memberikan yang terbaik dan berjuang sekuat tenaga demi Indonesia.

(Ratih Pratisti)

Ratih Pratisti

Ratih Pratisti

Editor, writer, traveller. Always search the answer of something that intriguing and write it down to article or another media that give knowledge to others.

More Posts - Website

Follow Me:
TwitterFacebookLinkedIn

Comments

comments

Ratih Pratisti

Ratih Pratisti83 Posts

Editor, writer, traveller. Always search the answer of something that intriguing and write it down to article or another media that give knowledge to others.

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password