Tuesday, 13 November 2018

Belum Ada Solusi Mudah dan Tepat untuk Atasi Banjir Jakarta

jakartapintar.com – Banjir bukan lagi merupakan hal baru yang dihadapi oleh masyarakat Belanda. Belanda merupakan Negara yang sebagian besar daratan di wilayah pesisisrnya berada dibawah permukaan laut sehingga risiko terkena banjir selalu mengancam. Amsterdam dan Rotterdam adalah salah satu kota di Belanda yang bisa dijadikan pelajaran berharga bagi Jakarta. Wali kota Rotterdam Ahmed Aboutaleb bertemu dengan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama untuk berupaya meningkatkan kerja sama dalam berbagai bidang termasuk pencegahan banjir. Kedua kota tersebut juga melakukan kerjasama dalam kerangka C40, yaitu organisasi yang terdiri dari 40 kota besar dunia yang melakukan berbagai usaha untuk menghadapi perubahan iklim. “Salah satu isu yang kami bahas tahun lalu adalah bagaimana cara untuk menangani perubahan iklim dan berbagai isu soal air. Jakarta menghadapi masalah besar terkait air ini, terutama soal banjir,” kata Aboutaleb .

Aboutaleb kemudian menjelaskan bagaimana Rotterdam menghadapi banjir selama ini:

“Tanggul-tanggul dan sistem dalam pencegahan banjir di Belanda dirancang sedemikian sempurna untuk mencegah banjir selama ribuan tahun. Tetapi, kami memiliki sejarah 400 tahun dalam membangun tanggul- tanggul dan bendungan-bendungan tersebut. Itu semua bukan sesuatu yang kami bangun kemarin. Hal tersebut sangat membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya. Warga sekitar membayar pajak khusus untuk membiayai organisasi yang khusus mengenai banjir dan manajemen risiko bencana. Setiap keluarga di Rotterdam membayar sekitar 400 euro atau Rp 6,4 juta per tahun dalam bentuk pajak untuk biaya perawatan tanggul.

Jakarta tidak akan bisa melakukannya hanya dalam waktu setahun karena program pencegahan banjir tersebut adalah program jangka panjang terutama karena biayanya yang sangat mahal. Jakarta tak akan bisa melakukan itu semua dalam setahun. Program pencegahan banjir ini adalah program jangka panjang, terutama karena biayanya sangat mahal. “Bagaimana Anda akan membiayai semua itu, Apakah dengan melibatkan Dana Moneter Internasional, Bank Dunia, atau bank-bank nasional? Menurut saya, warga Jakarta, pemerintah lokal, dan pemerintah nasional perlu bekerja sama menemukan cara membiayai itu semua. Saya tidak berhak menilai soal itu. Kami di Rotterdam melakukan itu dengan menarik pajak, pajak yang diarahkan secara sangat spesifik untuk tujuan pencegahan banjir tersebut,” jelas Aboutaleb.

Kerangka kultural

Menurut Aboutaleb program perencanaan banjir memang tidak mudah, hal tersebut melibatkan perencanaan tata ruang, perumahan, manajemen air, pengumpulan sampah. Dalam hal membuang sampah di sungai masih menimbulkan masalah lain yaitu mental masyarakat dan pendidikan. Memindahkan orang dari pinggiran sungai ke lokasi lain juga harus diselesaikan sesuai dengan aspek kultural Negara Indonesia. Bagaimana memotivasi dan berbicara dengan warga untuk pindah ke lokasi lain agar tercipta ruang lebih banyak. Salah satu konsep di Belanda adalah “Beri Ruang untuk Sungai” yang artinya beberapa desa di Belanda tidak diizinkan untuk menetapkan area tambahan untuk perumahan, semuanya dibatasi da nada peraturan tetapnya. “Masyarakat harus terlibat dalam semua program ini. Saya menyebutnya sebagai ‘proses kreasi bersama atau co-creation process’. Kreasi bersama dengan seluruh warga dan kalangan bisnis.” (Nani Maryani)

phuceng,minyak lintah,minyak lintah CHC,mesra perkasa

Comments

comments

Seorang Mahasiswa di salah satu Universitas di Yogyakarta. Writing is Everything.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *