Wednesday, 12 December 2018

Jaga Pertumbuhan Ekonomi Indonesia dengan Kebijakan Harga BBM

jakartapintar.com – Setiap tiga bulan sekali pemerintah selalu menentapkan harga baru BBM yang sesuai dengan Kesepakatan dalam kebijakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Konsistensi pelaksanaan kebijakan ini dinilai sangat penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dan stabilitasnya. “ saat ini kami konsisten untuk melaksanakan kesepakatan. Kita akan liahat harga rata-rata sepanjang bulan Januari, Februari dan Maret ini.” ujar IGN Wiratmadja Puja selaku Direktur Jendral Minyak dan Gas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), di Jakarta (29/01).

Pada bulan Desember tahun lalu, pemerintah dan DPR setuju menurunkan harga BBM sesuai dengan keekonomian dan mulai diberlakukan pada tanggal 5 Januari 2016, harga baru ini akan dievaluasi pada tiga bulan kedepan. Penetapan harga baru pada awal januari tersebut menurunkan harga premium sebanyak Rp 200,- perliter harga menjadi Rp 7.050,- perliter untuk daerah Jawa dan Bali, untuk solar turun Rp 300,- dari sebelumnya Rp 5.950,- perliter menjadi Rp 5.650,- perliter.

Setya W Yudha, anggota Komisi VII DPR RI mendukung langkah pemerintah untuk melakukan periodisasu penetapan harga BBm per tiga bulan. Pemerintah diminta berhati-hati dalam melakukan penentuan kebijakan harga BBM. “ Harga minyak dunia yang jatuh mencapai angka dibawah USD 40 per barel telah memukul jatuh keuangan banyak negera, terutama produsen minyak dan gas bumi.” Ujar Setya.

Arab Saudi sebagai produsen utama minyak dunia harus mengalami defisit anggaran hingga mencapai USD 98 miliar atau dalam rupiah sekitar Rp 1.372 triliun. Untuk menutupi defisit tersebut, pemerintah Arab Saudi memutuskan untuk menaikan harga bahan bakar hingga 50 persen. Tercatat, kinerja keuangan sejumlah perusahaan migas global juga mengalami penurunan yang signifikan. ExxonMobil sebagai perusahaan migas terbesar di dunia, mencatat pendapatan turun 53 persen sebelum pajak hingga kuartal III 2015, dibandingkan periode tahun lalu.

Pemerintah diminta untuk mengurangi ekspor energy fosil secara bertahap dan akan berhenti pada waku nanti. artinya, sudah saatnya pemerintah harus mengurangi ketergantungan Anggaran pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dari komoditi energy. “ Saat ini merupakan momentum yang tepat untuk melakukan hal tersebut, yaitu mencari koditi lain yang akan digunakan sebagai sumber APBN.” Ujar Rinaldy Dalimi, Anggota Dewan Energi Nasional.(linda)

phuceng,minyak lintah,minyak lintah CHC,mesra perkasa

Comments

comments

just ordinary girl who like Korean boyband ! haha VIP & Ikonics !!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *