Wednesday, 23 May 2018

Kejahatan yang Dilakukan Daeng Aziz Saat Berkuasa di Kalijodo

jakartapintar.com – Daeng Aziz atau bernama asli Abdul Aziz belakangan nama itu santer didengar di telinga masyarakat. Aziz ialah pentolan lokalisasi Kalijodo, Jakarta Utara. Disana Daeng Aziz memiliki 8 kafe. Dahulu Aziz cukup disegani karena dia adalah pemimpin kelompok dari Bugis Makassar. Selain Bugis, masih ada dua kelompok besar di Kalijodo yaitu Mandar dan Banten.

Namun kini kejayaan Aziz telah menghilang. Dulunya ia yang kebal terhadap hokum, sekarang justru harus berurusan dangan polisi. Dan Tak tanggung-tanggung, Aziz langsung menyandang status tersangka untuk dua kasus sekaligus. Yang pertama adalah Aziz sebagai tersangka kasus prostitusi dan tindak pidanan perdagangan wanita, azizi ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Metro Jaya.

Krishna mengatakan penyidik sudah melayangkan surat pemanggilan jadwal pemeriksaan pada hari rabu (23/2) lalu. Terkait dugaan tersebut, pihak polisi sudah memeriksa tujuh orang saksi yang diamankan saat Operasi Penyakit Masyarakat di Kalijodo pada Sabtu (20/2) dinihari lalu. Selain itu, Polda Metro Jaya jiga membidik Aziz atas kepemilikan beberapa senjata tajam yang ditemukan di kafe miliknya saat Opersi Penyakit Masyarakat.

Kasus kedua yang membelit Aziz adalah pelanggaran pasal 51 ayat 3 Undang-Undang No 30 tahun 2009 mengenai ketenegalistrikan. Kombes Daniel Bolly Tifanoa, Kapolres Metro Jakarta Utara, mengatakan pihaknya telah menetapkan Aziz tersangka sejak dua hari yang lalu. “sebelumnya kita sudah melakukan penyelidikan sebelum menetapkan Aziz sebagai tersangka. Diawali dengan permintaan PLN untuk melakukan pemeriksaan ada tidaknya pencurian listrik.” Ujar Bolly.

Setelahnya Bolly beserta pihak PLN, tetangga Aziz, ketua RT, ketua RW, Lurah dan Camat melakukan pengecekan di lokasi. Lalu hasilnya, Bolly mengatakan, dirumah DA jelas ditemukan kaitan listrik yang digunakan untuk pencurian listrik. Atas perbuatan Aziz, pihak PLN mencatat kerugian yang cukup besar dalam kurun waktu satu tahun yaitu sebanyak Rp 600 juta untuk durasi satu tahun,

Menurut Bolly, pencuriaan listrik yang dilakukan Aziz digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. “biasanya boks meteran yang legal dan terdaftar tidak akan mampu menghidupi listrik, AC dan Kafe-kafe tersebut. Nah, justru yang dicangklong itu yang menghidupi Ac dan yang lainya. Dalam pencuriannya Aziz tak tanggung-tanggung menggunakan empat alat sekaligus sehingga menghasilkan empat aliran listri tak resmi yang diambilnya.

Untuk hokum yang didapatkan Aziz karena pencurian listrik ini jauh lebih lama daripada kasus prostitusi tersebut. Untuk kasus pencurian listrik Aziz dapa dijeat dengan ancaman hukuman tujuh tahun penjara, sedangkan untuk kasus prostitusi dan pedangangan wanita dijerat dengan Pasal 296 KUHP dan Pasal 5)^ KUHP dengan ancaman penjara satu tahun. (linda)

Comments

comments

just ordinary girl who like Korean boyband ! haha VIP & Ikonics !!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *