Thursday, 20 September 2018

Ghozali Mushanif, Tokoh Betawi yang Go Internasional

Tokoh Betawi
Ghozali Mushanif Betawi ( Gambar : Google )

jakartapintar.com – Dahulu, nama Betawi mulai di dengar di kancah Internasional ketika Syeeh Juned, seorang ulama Betawi yang menambahkan kata Betawi dalam namanya sendiri menjadi Syeeh Juned AI-Batawi. Syeeh Juned ini dahulu pada tahun 1834 pernah menjadi imam besar di Masjidil Haram karena tawaddu dan ketinggian ilmunya.

Jika Syeeh Juned sangat dihormati karena pernah menjadi imam Masjidil Haram, maka berbeda dengan KH. Ghozali Mushanif. Ghozali dahulu pernah menuntut ilmu di Darul Ulum Saudi Arabia yang sebelumnya merupakan alumnus MA Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur yang mendirikan dan menjadi ketua Ikatan Anak Betawi 9IAB) di Mekkah. Selain menjadi ketua IAB, Ghozali sendiri diberikan amanah untuk menjadi Ketua Perhimpunan Pelajar Islam Mekkah.

Ghozali ternyata lebih banyk beraktivitas diluar kota. Pada usia 12 tahun, Ia sudah meninggalkan kampong halaman tercintanya untuk menempuh pendidikan agama di pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur. Setelah selesai menempuh tingkat Madrasah, Ia kemudian dikirim untuk menuntut ilmu di Saudi Arabia selama tujuh tahun (1971-1978). Disana Ghozali menjadi orang yang sangat berpengaruh karena jabatannya sebagai ketua Perhimpunan Pelajar Islam di Mekkah.

Ghozali kemudian kembali ke tanah air dan kembali menuntut ilmu di bangku kuliah Universitas Hasyim Ashari, Jombang. Di ombang pun Ia juga sangat aktif berkecimpung di organisasi salah satunya adalah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan juga aktif di Perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jombang. Tidak lama setelah itu, Ia jatuh cinta kepada seorang perempuan bernama Hj. Sofyani yang kemudian dipersuntingnya.

Sebgai seorang yang memiliki latar belakang agama yang kuat karena pernah menempuh pendidikan di pondok pesantren dan bahkan sampai luar negeri, Ghozali ternyata juga sangat berpengaruh di daerah Ia tinggal. Memberikan pengajian di beberapa masjlis taklim, musholla, dan masjid merupakan hal yang sering Ia lakukan. Ia juga membanguan sebuah pondok pesantren berlantai empat atas dokongan dan donator dari Timur Tengah dengan nama Emirattes Al Mushonnif Islamic School.

Comments

comments

Seorang Mahasiswa di salah satu Universitas di Yogyakarta. Writing is Everything.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *